Otak-otak

10….? 20…???  saya bisa menghabiskan makanan ini dengan sentang hati

karena ini makanan favorit saya.
Rasanya…….. sedikit terasa, ada ikan tenggirinya……….. tidak amis. apalagi jika di tambah dengan bumbu kacang atau racikan bumbu empek-empek. rasanya pasti tambah enak…..
ukurannya kecil biasanya, hingga saya tidak dapat mengendalikan diri kalau sudah di dekatnya

tapi banyak yang khawatir kalau saya di dekat makanan itu…., orang rumah bakal ngomel-ngomel, karena otak-otaknya sering aku habiskan sendiri… ckckckck 😀

FiKSi

Fiksi, aku mengatakannya. Mungkin selintas jika kau perhatikan itu nyata, tapi bagiku itu fiksi.

Ini hanya keyakinanku saja dalam menilai sesuatu,. Tak ada bedanya seperti cerita-cerita pendek atau pun sebuah novel yang di bukukan.

Tapi ini bergerak, berjalan seperti kehidupan.

Aku anggap itu acting. Sebuah drama yang dipentaskan di alam ini. Jika aku bisa mengatakannya dengan yakin, aku akan mengatakan, “tinggal menunggu waktu saja, dan semua akan selesai……”

Coba kau rasakan…. dalam nyanyiannya, tak ada sedikitpun irama yang mengiringinya,….
Meski intonasinya sangat tepat menggambarkan keadaan. Jelas. Dari mimik wajahnya pun kau dapat mengartikan makna yang terselubung dalam pikirannya. Meski dari kita tidak ada yang tahu di balik hatinya. Baik-kah? Atau Buruk-kah?. 

Cukup. Dan berhentilah mengira-ngira. Dalam perkiraanmu, kau bisa terjebak dalam sebuah Galaxi yang berputar, hingga kau merasa payah sendirian. Tak ada yang bisa menolongmu. Karena pemikiranmu itu lebih dalam dari manusia normal.

Berputar…berputar…dan berputar…, menari di bilik awan yang pekat. Kau tiba- tiba hilang sejenak, lalu menghampiri dan membawaku berlari, menyelinapkan sebuah kata dalam hati.

Hilang lagi, dalam sejenak aku tertegun membawa arti. Hilang dan kembali itu yang terjadi. …..

Aku berteriak. Mengundang Gema namamu. Tapi kebisingan mengubur semua kenangan kehidupan.  Hingga aku merasa jijik terhadapku, terhadapmu, terhadap dunia yang tidak pernah berbicara….. Walau suaraku bergema, hal itu takan mengubah dunia. Dan takkan pernah membawamu kembali

Tiba –tiba buih itu datang. Dan menurutku apalah perbedaan antara buih dan awan…..

Benda misteri itu sama-sama memiliki wujud yang tak dapat aku genggam, keduanya sama saja, akan hilang ketika aku mencoba meraihnya. Keduanya sama putih….tapi jelas itu berbeda. Dan dalam hal ini, aku tak dapat memberikan perbedaan. Namun, Ketika ia datang, aku dapat merasaknnya. Terkadang… , meski aku melihatnya saja, aku ingin pergi menuju awan. Sama ceritanya seperti cerita dongeng kuno. Membayangkan ada sebuah istana di balik awan itu. Sebuah kerajaan. Ya… katakanlah aku membayangkan sebuah surga. Dimana hanya kedamaian yang ada.

Entahlah…..

Jika aku terus mengikuti perputaran galaxi itu, mungkin juga aku akan lebih dalam menyelami semua makna kehidupan.

Banyak yang mengatakannya, bukan hanya aku saja. Kau pun sendiri berkata demikian.

Sudahlah…..

Aku tidak mau beretorika panjang lebar mengenai hal itu. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan. Daripada membahas masalah ini, yang tiada berujung. Dan lalu aku harus memutar Flashback kehidupan beribu-ribu Masehi. Dan siapakah yang lebih dulu hidup pada waktu itu?. Buih atau awan? Hey…. aku bukan seorang filusuf Yunani Kuno.!!

Berhentilah sampai disini. Atau kau bisa terjrbak dalam labirin otakkmu sendiri.

heh0

move fast…. girl..!!!

I know that I should slow my step
waiting for the other
but I feel my time stolen

I know that I must be patient
realize that the earth is rotating more slowly than I think
if I believe it, I was lying to myself.
because my time is actually running faster than I imagined

please……understood,
because it seems I live in another world
oh no …. I mean ….. There are other factors that spurred me to think and move fast

yes you’re right, I should have run more slowly,
feel the wind
breath of  fresh air
release the fatigue in mind

*ya…you really think  faster
but all was useless, because there’s nothing faster what  you do than what the things that you think on your mind ….

MeNari di atas Batas…

Tidakkah engkau tahu anakku, segala ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya,

“Berangkatlah dalam keadaan ringan ataupun berat!”? -Abu Ayyub Al Anshari, Radhiyallaahu ‘Anhu-

Di buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, ada kisah tentang Ibnu Taimiyah. Dia yang selalu dipasang di garis depan, menjadi pejuang pengobar semangat ketika serbuan Mongol bergemuruh menerjang Damaskus. Dan dialah juga yang tiap kali tugas jihad itu usai harus bersetia menghuni selnya di penjara kota.

Tetapi jeruji-jeruji tak menghentikannya. Disaksikan besinya yang berkarat dan temboknya yang berlumut dia ucapkan kekatanya yang menyejarah. “Apa yang mereka lakukan padaku? Jiwaku merdeka dalam genggaman Allah. Jika aku dipenjara, jadilah ia rehat. Jika dibuang jadilah ia tamasya. Jika dibunuh, apalagi yang lebih kurindukan selain menemui Allah?”

Penjara tak menghentikannya. Ia tetap berkarya. Saat tinta, kertas, dan pena dijauhkan darinya, ditulisnya Risalatul Hamawiyah di dinding penjara dengan arang sisa perapian. Dan dunia pun menjadi saksi, bahwa jiwanya telah menari di atas semua batas, merayakan pengabdian yang hanya ia tujukan pada Allah sepanjang hidupnya.

Namanya Muhammad ibn ‘Ali. Tapi orang akan lebih mengangguk tanda kenal jika disebut nama Muhammad ibn Al Hanafiyah. Ini menisbat pada ibunya, seorang wanita dari Bani Hanifah. Ya, ayahandanya adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, radhiyallaahu ‘anhu. Tapi ibundanya bukanlah Fathimah. Artinya, dia bukan berasal dari garis turun langsung Sang Nabi, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.

Satu saat seseorang mempermasalahkan pembedaan yang dilakukan atas dirinya dibanding kedua kakandanya, Al Hasan dan Al Husain. “Tidakkah kau lihat”, kata orang itu, “Ayahmu lebih mencintai Al Hasan dan Al Husain dibanding dirimu?”

“Duh, jangan katakan begitu kawan!”, jawabnya kalem. “Al Hasan dan Al Husain bagaikan dua mata bagi ayahku. Sedang aku ini bagaikan kedua tangannya. ” Senyumnya mengembang, manis sekali. “Adalah tugas kedua tangan”, lanjutnya, “Untuk menjaga kedua mata.” Dan memang begitulah kehidupannya, diabdikan untuk menjaga kedua kakandanya hingga batas waktu yang telah Allah tetapkan. Hingga, Al Hasan wafat dan Al Husain pun gugur dalam kisah yang terlalu pedih untuk kita ceritakan.

Dendamkah Muhammad ibn Al Hanafiyah pada keluarga besar yang telah menzhalimi keluarganya itu; Bani Umayyah? Secara manusiawi tentu jawabnya ya. Apalagi rasa pedih itu kadang muncul di saat seharusnya ia tunduk khusyu’ dan mentaati wasiat taqwa. Masa itu, hampir tak ada khuthbah Jum’at yang melewatkan pujian untuk Mu’awiyah sekeluarga sekaligus cacian untuk ‘Ali, ayahandanya. Seakan, mengumpat ‘Ali ibn Abi Thalib adalah bagian dari rukun khuthbah.

Tetapi orang-orang kemudian tertakjub ketika ia memenuhi panggilan jihad yang diserukan Yazid ibn Mu’awiyah, orang yang paling bertanggungjawab atas pembantaian Al Husain sekeluarga. “Layakkah orang seperti itu ditaati?”, tanya orang-orang.

“Memangnya ada apa dengannya?”

“Dia meninggalkan shalat, meminum khamr, dan jauh dari hukum Allah!”

“Aku tidak melihat itu ketika membersamainya. Dia menunaikan shalat, cenderung pada kebajikan, dan bertanya tentang Al Quran juga sunnah RasulNya.”

“Dia hanya berpura-pura di hadapanmu!”

“Apakah yang ditakutkannya atasku hingga harus berpura-pura? Dan jika kalian memang melihatnya melakukan semua itu, mengapa dia tidak berpura-pura pada kalian? Apakah kalian semua ini sahabat akrabnya yang ingin menjebakku?”

Mereka terdiam. Saling pandang. Lalu berkata lagi, “Bukankah Bani Umayyah yang telah menzhalimi keluargamu hingga binasa dan curas? Apa yang akan kau katakan di hadapan Allah dan di hadapan ayahmu, juga saudara-saudaramu, jika kini kau berperang di bawah panji-panji Bani Umayyah?” Muhammad ibn Al Hanafiyah tersenyum. “Ayahku kini membersamai Rasulullah di surga tertinggi, sementara saudara-saudaraku adalah penghulu para pemuda di sana. Kezhaliman Bani Umayyah adalah urusan mereka dengan Allah. Urusanku kini adalah berjihad di jalan Allah dan mentaati Ulil Amri.”

Begitulah. Tak mudah menjadi seorang Muhammad ibn Al Hanafiyah. Ada kendala-kendala, ada batas-batas yang membuatnya terhalang untuk memberikan pengabdian. Batas-batas itu bukan hanya ada di dataran raga, tapi jauh di sana, di dalam jiwanya. Dan kini jiwanya menari di atas batas, merayakan pengabdian yang sepanjang hidup ia tujukan untuk Allah.

Memaknai batas kadang memberi kita permakluman untuk mengambil ‘udzur. Selalu ada pembenaran atas setiap langkah mundur yang kita ambil. Selalu ada alasan untuk berlama-lama di tiap perhentian yang kita singgahi. Tetapi di jalan cinta para pejuang, para kstaria agung itu bertanya pada hati. Dan mereka menemukan jawab yang membuat jiwa menari di atas batas, meski jasad harus bersipayah mengimbanginya. ‘Amr ibn Al Jamuh, lelaki pincang dari Bani Najjar itu diminta rehat ketika hari Uhud tiba. “Dengan kaki pincangku inilah”, katanya, “Aku akan melangkah ke surga!” Jiwanya menari di atas batas, dan Sang Nabi di hari Uhud bersaksi, “Ia kini telah berada di antara para bidadari, dengan kaki yang utuh tak pincang lagi!”

Dengan nikmat Allah yang begitu besar atas jiwa dan raga ini, apa yang harus kita katakan pada ‘Amr ibn Al Jamuh, Ahmad Yassin, dan orang-orang semisal mereka saat kita disaput diam dan santai? Dengan kemudaan ini, berkacalah kita pada Abu Ayyub Al Anshari yang di usia delapanpuluh tahunnya bergegas-gegas ke Konstantinopel, menjadikan pedangnya sebagai tongkat penyangga tubuh sepanjang jalan. Dan apa jawab kita saat kita ingatkan bahwa ia punya ‘udzur, tapi justru dia bertanya, “Tidak tahukah engkau Nak, bahwa ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya, ‘Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat!’?”

from,…………my adviser

Persepsi yang sadar

Pada Tahun 1956, seorang Geolog kebangsaan Jepang, Yuka, berangkat ke Afrika Selatan bersama para ilmuan mancanegara untuk mencari emas dan batu mulia. Setiap hari Yuka bekerja dari pukul 05:00 sampai 22:00. Sepuluh hari pencarian dilakukan, mereka belum mendapatkan sesuatu yang berharga. Suatu hari, Yuka merasa lelah dan frustasi. Maka ia memutuskan untuk kembali ke hotel, padahal masih pukul 17:00.

Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang bocah berusia sekitar sepuluh tahun. Di tangan bocah itu ada sebongkah batu yang memancarkan cahaya. Yuka mendekati bocah tersebut dan menanyakan apa yang dipegangnya. Bocah itu menjawab “tidak tahu,aku menemukannya di pinggir pantai”. Yuka meminta bocah itu memberikan batu itu. Bocah itu berkata,”aku tidak keberatan,tapi apa imbalannya?”. Yuka berkata,”aku akan memberimu uang. Berapa yang engkau minta?”. Bocah itu berkata “entahlah, apa engkau mempunyai sesuatu yang lain?”. Yuka berkata “ya aku mempunyai beberapa kue,apakah engkau mau menerimanya sebagai imbalan? Bocah itu ternyata mau.

Setelah mendapat batu itu, yuka segera kembali ke kamar hotel. Di kamarnya ia meneliti batu itu. Karena tidak percaya ia sampai menelitinya sepuluh kali. Akhirnya ia yakin bahwa batu itu adalah emas murni bernilai jutaan dolar$$$$$$.. yuka berkata dalam hatinya,”andaikata bocah itu mengetahui nilai batu ini,ia tentu tidak akan mau menukarnya dengan benda semurah itu”.

Kisah ini memberi pelajaran pada kita tentang persepsi atau pengetahuan.  Andaikata bocah itu mengetahui nilai batu yang ia pegang, kemudian mengambil keuntungan dengan benar, pasti ia jadi jutawan.

Hal ini sering terjadi dalam kehidupan kita, yang sering membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Kita menganggap hidup orang lain itu lebih enak dari kita. Tidak sedikit yang sering berkata “kayaknya enak sekali kalo aku jadi dia.” Belum tentu teman!!!!.karena kita hanya melihat dengan mata telanjang saja. Itu hanya terlihat dari luarnya saja. Dan Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya dan memberi cobaan sesuai kadarnya. Boleh jadi mungkin sebenarnya kita diberikan potensi namun kita sendiri tidak mengenalnya. Lihatlah diri kita, syukuri segalanya. Allah menciptakan dunia ini pasti ada tujuannya. Dan menciptakan kita pun pasti ada rencananya. Dan rencananya pastilah sempurna. Inilah yang terbaik bagi kita. Karena semuanya telah tercatat dalam LaumahfudNya.

*cerita dari buku dr.Ibrahim elkifli
Maestro Motivator Canada

Sayap-Sayap Patah -KG-

Wahai langit ….

Tanyakan pada-Nya …Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini ….

Begitu rapuh dan mudah terluka ….

Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta Begitu kuat dan kokoh ….

Saat berselimut cinta dan asa ….

Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini ….

Mengisi kekosongan di dalamnya…

Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya ….

Menghimpun berjuta asa ….

Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira ….

Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam jiwa ….

Menghimpit bayangan ….

Menyesakkan dada ….

Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa …

Wahai ilalang ….

Pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini ?

Mengapa kau hanya diam ….

Katakan padaku …….

Sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini ….

Sesuatu yang dibutuhkan raga ini ….

Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali ….

Desiran angin membuat berisik dirimu ….

Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku ….

Aku tak tahu apa maksudmu ….

Hanya menduga ….

Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana ….

Menunggumu dengan setia ….

Menghargai apa arti cinta ….

Hati terjatuh dan terluka ….

Merobek malam menoreh seribu duka ….

Kukepakkan sayap – sayap patahku ….

Mengikuti hembusan angin yang berlalu ….

Menancapkan rindu ….

Di sudut hati yang beku …. Dia retak, hancur bagai serpihan cermin ….

Berserakan ……..

Sebelum hilang diterpa angin ….

Sambil terduduk lemah Ku coba kembali mengais sisa hati ….

Bercampur baur dengan debu ….

Ingin ku rengkuh ….

Ku gapai kepingan di sudut hati ….

Hanya bayangan yang ku dapat ….

Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya ….

Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini ….

Ia telah patah ….

Tertusuk duri yang tajam ….

Hanya bisa meratap ….

Meringis ….

Mencoba menggapai sebuah pegangan ….

 

 

-KG-

1000 tahun CaHaya

meski sinarmu berlari 1000 tahun cahaya…
tapi sendu..masih tersirat dibagian raganya.,
dan ia tak bisa mendatangkan goresan lentik dijiwanya…
yang kau hantarkan lebh dr 1000 makna…
namun hidup tidak sekuat cahaya….
ia bth penopang
agar ia tak terjatuh
karna ia lemah
bukan jiwa yg tdk ia miliki
tapi aliran energi yg menghilang dlm kepahitan laut ini..
ia datang dgn laju..
mendekati magnet cahaya…dgn seonggak perahu
ia melihat kau menari…berputar diantara bintang2
dengan keelokanmu…kau membuat ritme kehidupan
entah nada cerita itu pergi kmana,..
tp aku mendapati sebuah sinar dalam genggamanku
indah memang….
tapi …..

Kisah Segelas Air Susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapasen uangnya, dan dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saatseorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa saya harus membayar untuk segelas besar susuini ?”
Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaranuntuk kebaikan” kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya danberkata :” Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.”

Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudahtidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menanganipenyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokterKelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.

Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang.Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu,Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. . Wanita itu sembuh!!.

Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi. “Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu..” tertanda, DR Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa :”Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia”